Haloo haloo sahabat CROOTERS. inii diaa yang ditunggu-tunggu. Kisah delapan pangeran sepuluu dua yang sangat menegangkan dimulai !!! Semoga ceritanya tambah disukai, dan selamat membaca.
_________________________________________________
KISAH DELAPAN PANGERAN part.2
Awan hitam mengepul di angkasa. Langit sudah menampakkan kemurkaannya. Hujan deras memaksa pasukan Tempe yang tidak membawa payung dan jas hujan mundur beberapa langkah, sedikit menjauhi titik tujuan mereka : Istana Crooters.
Sementara itu, kedelapan pangeran sedang berseteru hebat di dalam ruang singgasana. Sampai akhirnya, mereka mendengar sebuah bom atom memekakkan telinga diledakkan dengan jarak beberapa kilometer dari istana. Kedelapan pangeran yang mengenakan mahkota yang berbeda itu tiba-tiba terdiam dan membuat suasana singgasana menjadi hening, dan penuh kesunyian.
Pangeran Erwin menatap kakinya yang menginjak karpet merah. Batu ruby merah yang ada di mahkotanya menampakkan pantulan menyilaukan. Ruby, adalah lambang ksatria dan kepemimpinan yang disimbolkan sebagai dirinya.
Pangeran Eqin menatap pintu emas yang ada di pojok ruangan itu. Emas murni di mahkotanya menyala-nyala. Emas, lambang keberhargaan dan ketelitian serta unsur yang paling berharga itu tertata dan tersimbol pada pangeran Eqin.
Pangeran Fandika menutup buku agamanya. Sangat nampak intan putih di mahkotanya menjadi berkilau. Intan itu melambangkan kesucian dan ketabahan hati sang pangeran.
Pangeran Kumar tertunduk, menatap hamparan partikel merah karpet, dan kristal birunya menampakkan sejuta partikel biru di udara. Batu kristal biru yang ada di mahkotanya melambangkan kecerdasan, kesejukan, dan kedigdayaan pemiliknya.
Pangeran Abdullah menatap telapak tangannya yang putih. Batu permata violet yang ada di mahkotanya menyilaukan cahaya di ruangan itu. Permata violet itu melambangkan kepolosan dan kesopanan sang pangeran.
Pangeran Zultoni menatap bayangan mata gelapnya sendiri yang ada di layar hitam blackberry. Zamrud hijaunya menyala-nyala menghiasi hamparan pandangan mata. Zamrud itu melambangkan keahlian, kecanggihan, dan kemajuan yang dimiliki oleh pemiliknya.
Pangeran Ikang menatap mahkotanyan sendiri lewat cermin yang ada di dekat singgasana. Dilihatnya mutiara putih gading yang ada di sana tampak sangat indah dan berharga. Ia tahu, mutiara itu melambangkan kekuatan murni dan hebat, serta setiap lekukan di lingkaran tak sempurnanya melambangkan ketelitian yang begitu mendalam.
Pangeran Rizky menatap kalkulator yang ada di tangan kirinya. Dan ia menoleh ke cermin tempat pangeran Ikang menatap mahkotanya. Pangeran Rizky mendapati batu safir hitam di mahkotanya seakan menjadi cermin cekung yang menyebarkan setiap berkas cahaya.
"Saudara-saudaraku, aku tahu, aku bukanlah raja. Aku bukanlah ayahanda yang sangat bijaksana dalam memimpin negara ini. Tapi, aku ingin kita sudahi saja perselisihan kita ini. Negeri kita sudah dihajar oleh negara Tempe. Kita tak bisa hanya berdiam di sini, karena kita semua memegang amanah dari ayahanda untuk menjaga negara."pangeran Erwin membuka perbincangan.
"Kau salah, wahai kakakku,"kata pangeran Eqin.
"Apa maksudmu wahai Pascal Prince?."
"Batu ruby yang ada di mahkotamu melambangkan kebijaksanaanmu sebagai pemimpin kami, dan kau memang layak memimpin kami, adik-adikmu," kata pangeran Eqin tersenyum. Senyuman itu disusul oleh senyum keenam pangeran lainnya. Pangeran Erwin-pun merasa sangat didukung dan semangatnya menyala-nyala.
"Baiklah, saudara-saudaraku. Kita akan pertahankan negara kita tercinta dan menyerang balik negara Tempe. Demi kesejahteraan negara dan cahaya ruby merah di angkasa!,"pangeran Erwin menjulurkan tangannya.
"Demi kebahagian dan kilauan emas bumi negara!,"pangeran Eqin menjulurkan tangannya di atas telapak pangeran Erwin.
"Demi kesucian dan pancaran intan di langit biru!,"pangeran Fandika meletakkan telapak tangannya di atas tangan pangeran Eqin.
"Demi kesejukan dan partikel biru di langit mendung!,"pangeran Kumar meletakkan tangannya di atas tangan pangeran Fandika.
"Demi kemakmuran dan keindahan permata violet di kaki langit!,"kata pangeran Abdullah meletakkan tangannya di atas tangan pangeran Kumar.
"Demi kesempurnaan dan zamrud hijau yang berkilau tak pernah padam!,"kata pangeran Zultoni dan meletakkan tangannya di atas tangan pangeran Abdullah.
"Demi kemenangan dan indahnya mutiara di hamparan lautan!," kata pangeran Ikang dan meletakkan tangannya di atas tangan pangeran Zultoni.
"Demi keteguhan hati dan gejolak hitam sang batu safir yang selalu penuh perjuangan!,"kata pangeran Rizky dan meletakkan tangannya di atas tangan pangeran Ikang.
"Mari kita selamatkan negara kita. CROOTERS ???."
"Crott, croott, croott !!!!!."
***
Murka langit sudah mereda. Hujan sudah pergi, namun pangeran Erwin masih bisa melihat awan kehitaman dari jendela istana. Diamatinya dengan perlahan, namun awan hitam itu bukanlah awan kemurkaan langit, melainkan awan debu yang dihasilkan oleh bom atom buatan negara Tempe yang sudah memporak-porandakan negara bagian Selatan.
"Bagaimana kita akan melawan mereka?,"kata Pangeran Erwin.
"Menurut ilmu kimia, ada yang bisa mengalahkan bom atom, yaitu bom hidrogen. Aku akan membuatnya. Tapi, kita perlu mengukur udara, kelembaban, dan sebagainya,"usul pangeran Kumar.
"Baik, aku yang akan menghitungnya,"kata pangeran Erwin,"tapi bagaimana aku bisa mengolah data kalau aku tidak punya data asli tentang negara Tempe?."
"Semua tentang negara Tempe sangat tertutup dan kita tak bisa mengetahuinya,"jelas pangeran Ikang.
"Tentu saja bisa. Aku akan membuka sistem pertahanan dan membocorkan data-data negara mereka,"kata pangeran Eqin,"tapi, kudengar sambungan internet di sini telah diputus oleh negara itu."
"Aku yang akan memperbaikinya,"kata pangeran Zultoni,"Aku dan Rizky akan pergi untuk memperbaiki sistemnya dan mengembalikan jaringan."
"Aku akan memperhitungkan seluruh mekanika jaringan dan gelombang elektromagnetik yang ada,"ujar pangeran Rizky.
"Aku akan memperbaiki seluruh sistematik kendaraan tempur kita, dan aku akan membuat tempat perlindungan untuk rakyat."ujar pangeran Fandika.
"Aku dan Abdullah akan pergi menuju semua pasukan dan prajurit, melatih mereka, dan mempersiapkan senjata untuk melawan negara Tempe,"kata pangeran Ikang. Pangeran Abdullah menunduk penuh keyakinan.
"Baik, rencana kita sudah di depan mata. Tapi, kita harus memperhitungkan rencana cadangan,"kata pangeran Erwin.
"Begini saja, sambil kita bekerja, aku akan memikirkan rencana cadangan itu. Rakyat tidak bisa menunggu kita. Target Tempe adalah istana ini. Kita akan mati kalau istana ini mereka bom juga, jadi secepatnya kita harus membuat bom hidrogen itu dan meledakkannya."
Ketujuh pangeran menyetujui usul pangeran Ikang. Setelah itu, mereka berdoa bersama-sama dengan dipimpin pangeran Erwin.
***
Pangeran Zultoni dan Pangeran Rizky pergi menuju pusat jaringan negara Crooters. Jaraknya cukup jauh dari istana, namun mereka dengan cepat bisa tiba di sana hanya dengan memakai sepatu roda. Karena mereka harus berpapasan dengan pasukan Tempe, mereka menyamar dengan memakai pakaian biasa, dan tentunya, melepas mahkota mereka.
Sekitar lima belas menit, mereka tiba di gedung berwarna abu-abu yang sangat besar. Dengan cepat, mereka menuju lantai 30, lantai paling atas di gedung itu.
Mereka masuk ke sebuah ruangan.
Ruangan itu sangat gelap, dan Pangeran Rizky menekan skalar di dekat pintu. Tampak beberapa komputer dan peralatan canggih lainnya yang padam. Tampak pula kabel-kabel berbagai macam warna tergeletak dan terputus di atas sebuah meja keramik di pojok kanan ruangan.
Pangeran Zultoni mulai mengutak-atik komputer dengan LCD yang sangat besar, yang berada di dekat kumpulan kabel-kabel. Dengan cermat, Pangeran Zultoni membaca mengerjakan seluruh tugasnya lewat komputer itu : menyambungkan sinyal wireless negara. Sampai akhirnya, muncullah beberapa tabel yang harus di isi.
"Rizky, kau sudah dapat berapa lambda gelombangnya? Ayo, cepatlah...,"pangeran Zultoni menoleh pada adiknya yang sedang mengutak-atik komputer di sebelahnya.
"Oh, sial! Kalkulatorku kehabisan baterai!,"kata pangeran Rizky.
"Pakai handphonemu!."
"Ada di kamarku!."
"Ini, pakai Blackberry-ku,"pangeran Zultoni hendak menyerahkan BB-nya, namun, ketika ia melihat layarnya, "sial, low batt! Hitung pakai kalkulator di komputer itu!."
"Tidak bisa, aku tak bisa menutup program kurva ini, kalau kututup, harus diulang dari depan!."
"Hitung secara manual!." Pangeran Rizky menuruti kakaknya.
Ia mengeluarkan kertas dan pensil dari sakunya, dan dengan rajin dan teliti ia menulis rumus, memasukkan angka, dan menghitung.
"Ketemu!,"seru pangeran Rizky.
"Cepat isi data ini!."
Pangeran Rizky mengisi datanya, setelah selesai, ada perintah di komputer itu : CONNECT THE CABLES.
"Zul, kabelnya harus disambungkan,"kata pangeran Rizky.
Pangeran Zultoni sudah berada di hadapan puluhan kabel berwarna-warni. Ada hijau, merah, kuning, hitam, putih, putih-merah, merah-hitam, dan berbagai macam warna lainnya.
"Riz, aku bingung, kabel yang warna apa?,"kata pangeran Zultoni.
"Aku percaya padamu wahai kakakku. Kau kan ahli kabel, kau pasti bisa."
"Tapi, aku benar-benar tidak tahu."
"Kalau begitu, pilih warna keberuntunganmu."
"Baik, menurut zodiak, warna keberuntunganku hari ini adalah putih. Bagaimana dengan pasangannya?."
"Terserah, kau pilih yang mana."
"Baik. Warna batu di mahkotaku adalah hijau. Mungkin warna itu akan berguna. Tapi, apa kau yakin, sambungannya adalah putih-hijau?."
"Coba saja. ayo cepat, Zul. Kasihan Pangeran Eqin sudah menunggu di istana."
"Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim."
Pangeran Zultoni dengan menyambungkan kedua kabel itu dengan sangat teliti. Tidak ada reaksi apa-apa. Pangeran Zultoni hampir putus asa, dan ketika akan mencabut kabel itu, komputer ber-LCD sangat besar berbunyi 'bipp' dan layarnya bertuliskan : NETWORK IS CONNECTING.
***
Pangeran Eqin sudah sangat lama menunggu di ruangan ber-AC itu. Hawanya sangat dingin, namun pangeran Eqin berkeringat karena ia sangat deg-degan menunggu sinyal koneksi internet tersambung. Sampai sekitar setengah jam, koneksi itu bisa dilakukan.
Dengan cermat dan teliti pangeran Eqin memecahkan seluruh kode di situs negara Tempe.
Sampai akhirnya, ia tak bisa memecahkan satu kode. Di atas kotak yang harus di isi itu, ada sebuah pertanyaan :
WATER. FISH. MOVE.
Pangeran Eqin sangat bingung. Bagaimana ia harus mengisinya? Ini adalah kode terakhir untuk mendapatkan seluruh data rahasia negara Tempe.
Berikut ini kutipan pemikiran pangeran Eqin:
"Water:air. air itu, apa ya? Air... air... ehm, laut. ah, bukan. fish, ikan. air+ikan berarti laut. Tapi, tambak juga bisa. Apa di negara Tempe ada tambak ya? Ah, tidak. Sungai juga bisa. Move:bergerak. Ikan pasti bergerak. Atau jangan-jangan air yang bergerak? Hmmm, ikan bergerak kalau ikan itu sehat. Sehat itu Erwin. Erwin itu selalu ke ... KOLAM!!! Kolam itu berisi air, dan dipenuhi ikan, lalu ada air mancur yang airnya bergerak. GOTCHA !!!."
P O N D
Pangeran Eqin menekan tombol Enter setelah mengetik empat huruf itu di kotak pengisian. Dan beberapa saat kemudian:
THE SECRET DATA OF TEMPE COUNTRY IS OPENING . . .
***
maaf yaa... sampai sini duluu. kelanjutannya hari Sabtuu ntar yaaa... hehee .... see yaa
Informasi Siiiip cuy
About Me
- Profil
- Blog ini dibuat oleh anak anak Rong DHlem, mereka mempunyai kreativitas yang telah teruji, mereka melakukannya untuk membanggakan orang tuanya. kami disini berusaha membantu anda para pengguna agar situs ini dapat berguna bagi bangsa dan negara
Followers
Blogroll
-
Blog 10-115 tahun yang lalu
-
-
0 komentar
Posting Komentar